Elang Sigak, Penjaga Warisan Silat Tua Sumatera Selatan di Tanah Jawa

Gambar Gravatar
Poto: Guru Besar Elang Sigak bersama anak didik, lokasi Cibitung Bekasi, (ESANEWS.ID) Nur M Top)

ESANEWS.ID – Perguruan Seni Beladiri Elang Sigak menjadi salah satu perguruan pencak silat yang menjaga warisan silat tua Nusantara. Perguruan ini mengusung aliran Piedong Sigak, sebuah aliran klasik yang berasal dari Desa Ulak Paceh, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Aliran yang dijuluki Sang Rajawali ini diyakini telah tumbuh sejak masa masuknya Islam di Sumatera bagian selatan pada abad ke-13 hingga ke-15 Masehi, di periode peralihan dari kejayaan Sriwijaya menuju era Islam.

Elang Sigak dikenal sebagai perguruan yang berpijak pada filosofi pendekar yang kuat lahir batin—tajam dalam nalar, sigap dalam gerak, dan luhur dalam budi pekerti. Teknik yang diajarkan menonjolkan kecepatan, ketepatan serangan, kekuatan pertahanan, serta kewaspadaan penuh terhadap lingkungan, baik dalam pertarungan maupun kehidupan sehari-hari.

Secara resmi, Perguruan Seni Beladiri Elang Sigak didirikan oleh Bapak Nur Muhamad, S.Kom, atau yang dikenal dengan nama Pangeran Sebilah, pada 20 Februari 2019 di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Markas besar perguruan berlokasi di Jalan Arjuna Raya, Kampung Pulo, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan. Meski lahir di tanah perantauan, Elang Sigak menjadi jembatan budaya yang menghubungkan warisan leluhur Sumatera Selatan dengan semangat pembaruan di Pulau Jawa.

Sebagai lembaga pendidikan bela diri yang sah, perguruan ini bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Elang Sigak, dengan legalitas resmi melalui SK Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia No. AHU-0004255-AH.01.04.Tahun 2020.

Nama Elang Sigak sendiri mengandung dua makna mendalam. Elang melambangkan ketajaman visi serta kegigihan, sementara Sigak menggambarkan kesiagaan dan kecermatan. Filosofi inilah yang menjadi ruh utama dalam setiap kegiatan latihan dan pembinaan karakter di perguruan.

Sejak berdiri, Perguruan Elang Sigak tidak hanya menjadi tempat berlatih bela diri. Ia tumbuh sebagai rumah pelestarian budaya, wadah pembinaan mental dan spiritual, sekaligus benteng nilai-nilai luhur warisan leluhur. Dengan semboyan sigap, waspada, dan berani, Elang Sigak terus terbang tinggi, menjaga tradisi tua dalam langkah yang modern.

Pendiri Elang Sigak/ Nur Muhamad,S.Kom/ Pangeran Sebilah

Membidik Fakta, Terbangkan Kebenaran — Esanews.id

Bacaan Lainnya

Pos terkait