ESANEWS.ID – Perusahaan kendaraan otonom Waymo memastikan uji kemudi manual akan dimulai pekan ini di tiga kota yang telah ditunjuk, sebelum nantinya membuka layanan penuh dengan kendaraan sepenuhnya otonom.
“Harapannya dapat menyediakan layanan perjalanan sepenuhnya otonom di wilayah tersebut,” ujar juru bicara Ethan Teicher, dikutip dari CNBC Internasional, Kamis (4/12/2025).
Dalam beberapa minggu terakhir, Waymo semakin agresif mengumumkan ekspansi pasar. Langkah ini berlangsung di tengah persaingan ketat dengan raksasa teknologi lain seperti Amazon dan Tesla.
Amazon, melalui Zoox, telah menawarkan perjalanan gratis di Las Vegas dan San Francisco, sementara Tesla meluncurkan layanan ride-hailing dengan pengawas manusia di Austin dan San Francisco tahun ini.
Pada November lalu, Waymo juga mengonfirmasi rencana uji kemudi manual di Minneapolis, Tampa, dan New Orleans. Perusahaan menargetkan peluncuran layanan di Houston, San Antonio, dan Orlando pada 2026.Selain itu, Waymo telah memperluas layanan robotaxi di jalan bebas hambatan di San Francisco, Los Angeles, dan Phoenix, serta menunjuk kepala keuangan baru untuk memperkuat strategi ekspansinya.
Saat ini, layanan robotaxi Waymo mencatat lebih dari 250.000 perjalanan berbayar setiap pekan di Austin, Bay Area San Francisco, Phoenix, Atlanta, dan Los Angeles. Sejak diluncurkan pada 2020, perusahaan mengklaim sudah memberikan lebih dari 10 juta perjalanan berbayar.
Ekspansi ke kota-kota baru, termasuk wilayah bercuaca dingin, menunjukkan keyakinan Waymo terhadap kematangan teknologinya. Namun, bagi jutaan pekerja transportasi online, perkembangan ini dapat menjadi sinyal ancaman serius bagi keberlangsungan pekerjaan mereka.
Robotaxi Mulai Masuk Asia Tenggara?
Tak hanya di AS dan China, industri robotaxi juga mulai bergerak ke Asia Tenggara. Di Singapura, perusahaan mobil otonom asal AS, May Mobility, baru-baru ini mendapatkan investasi dari raksasa transportasi online Grab. May Mobility memang telah menyusun rencana untuk berekspansi ke kawasan Asia Tenggara pada tahun depan.
Kesepakatan tersebut menjadi langkah penting dalam mendorong robotaxi secara global serta menciptakan blueprint bagaimana layanan itu dapat dikelola dalam platform transportasi online yang sudah ada.
Grab sendiri merupakan salah satu penyedia layanan ojek online terbesar di Indonesia. Hingga kini belum jelas apakah kerja sama dengan May Mobility akan membuka pintu masuknya robotaxi ke Indonesia.
Tak berhenti di situ, Grab juga mengumumkan investasi senilai US$60 juta (Rp1 triliun) ke perusahaan pengemudian jarak jauh (remote driving) Vay Technology. Reuters melaporkan bahwa Grab tengah mencoba memanfaatkan jaringan transportasi online-nya untuk menggelar kendaraan otomatis, yang secara luas dianggap sebagai masa depan industri.
“Masa depan mobilitas di Asia Tenggara akan menjadi model hibrida yang mengandalkan keahlian mitra pengemudi kami di samping kendaraan otomatis dan layanan mengemudi jarak jauh,” ujar CEO Grab, Anthony Tan, dikutip dari Reuters.
Jika Vay masuk ke tahap tertentu dalam pengembangan teknologi dan perizinannya, Grab memastikan siap menambah investasi hingga US$350 juta pada tahun pertama.
Sebagai informasi, Vay menggunakan sistem ‘teledriver’, yaitu pengemudi jarak jauh yang mengarahkan mobil menuju pelanggan, sebelum kemudian pengguna dapat mengemudikan kendaraan itu sendiri. Pada Januari 2024, Vay meluncurkan layanan komersial perdananya di Las Vegas.
— Membidik Fakta, Terbangkan Kebenaran
Jurnalis : Nur M Top








